Sabtu, 30 Agustus 2008

menolong tanpa disengaja

semalam aku permisi pulang jam 3 sore, lebih cepat sejam dari jadwal pulang kantor. jarang2 aku permisi pulang cepat, tapi karena temanku ngajak belanja bareng, ya gapa2lah sekali2. tujuanku sih mo beli keperluan dapur dan sekalian beli barang monja di simpang melati. walaupun tujuan utama belanja keperluan dapur tapi waktu yang dihabiskan lebih banyak untuk mencari tas2 dan sepatu bekas. abis, banyak yang cantik2 dan bagus2. membeli barang bekas ato monja ato loak, ato apalah itu emang enak. karena kita bisa mendapatkan barang yang lain dari yang lain dan dengan kualitas yang bagus. aku menemukan satu tas, modelnya sih biasa2 aja tapi aku suka. penjualnya kasih harga pembukaan 85rb, menurut temanku kemahalan dan tanpa menawar kami meninggalkan kios tersebut. kami melihat2 kios yang lain. aku masih kepikiran ke tas itu, abang penjual itu kan baru kasih harga, kalo ditawar pasti bisa kurang. kalo tidak ada ketemu tas lain yang membuat aku tertarik aku akan balik kesitu lagi. tapi ntar aja deh keliling2 aja dulu. cuci mata.
capek berkeliling tak ada satu pun yang menarik hatiku, sementara temanku sudah membeli rok sampe lima, tas dan sepatu buat anaknya. ga ada tas lain yang membuat aku tertarik kecuali tas yang tadi. akhirnya kami kembali lagi ke kios itu. tanpa nanya berapa harganya, kami langsung bilang "bang, tas yang itu dapat ga 50rb?". "yah, ga bisalah bu, kalo mau 75rb". kami tawar lagi 60rb, tetap ga mau juga, akhirnya tas tersebut jadi kumiliki dengan harga 65rb. murah juga dibandingkan beli di mall.
itulah perjalananku kemarin sore dari jam 3 sampe kira2 jam 6 sore. dan kejadian utamanya, yang ingin kuceritakan adalah kejadian ketika dalam perjalanan pulang.
berhubung suamiku ga bisa jemput, aku dan temanku pulang naik angkot gajah mada warna biru trayek 94 dan kami duduk di ujung. ketika angkot baru berjalan kira2 puluhan meter ada dua orang penumpang naik. dua orang ibu2, yang satu kira2 berumur 45-an dan yang satu lagi mungkin sudah hampir 60-an dan dia buta. ibu yang lebih muda membawa keset kaki dan ibu2 atau lebih tepatnya nenek2 yang buta itu membawa kemoceng. mereka penjual keset kaki dan kemoceng. mereka duduk di dekat pintu masuk. ketika melihat itu aku merasa kasihan, tapi cuma sampai disitu. temanku langsung nyeletuk "aduh dek kasian yah, nanti kita bayarin aja ongkosnya ya". aku mengagguk.
temanku turun lebih dulu dan sebelum dia turun aku katakan biar aku saja yang bayar ongkos, karena tadi ketika perginya dia yang bayarin ongkos. ketika turun tidak lupa dia berpesan "dek jangan lupa ongkos mereka juga" (sambil menunjuk kedua ibu2 tadi).
setelah dia turun, aku melihat kedua ibu2 tadi. kasihan juga ya.... aku tersadar. kalo hanya kasihan saja tapi tidak ada perbuatan untuk yang dikasihani apa gunanya. ketika melihat orang jatuh, secara spontan kita berkata : aduh, sakit ya? itu saja. sering kita melakukan seperti itu. hal kecil saja, tapi kita sudah susah untuk menolong, konon lagi untuk hal yang besar, apalagi menolong orang yang tidak dikenal.
dan aku sangat beryukur atas hari kemarin, karena aku punya kesempatan untuk menolong orang yang sama sekali tak ku kenal, walaupun awalnya itu tidak terpikirkan. ada perasaan senang ketika melakukannya. ketika turun aku katakan : "inang, sudah sekalian ya" sambil aku menunjukkan uang yang kupegang. dengan senangnya dia mengatakan : terima kasih ya.......... (ada kata2 yang tidak bisa ku dengar karena suara kenderaan yang lalu lalang). aku melihat wajah ibu yang lebih muda menunjukkan rasa senang yang sangat, aku melihat bibirnya tersenyum, aku melihat matanya berlinang. dan aku pun jadi ikut2an, aku merasakan suatu perasaan yang sulit untuk dijelaskan, mungkin percampuran senang, haru, bahagia, puas, bangga atau apalah itu, tapi yang jelas mataku pun terasa basah. ketika aku sudah menerima kembalian ongkos aku melihatnya sekali lagi sambil tersenyum.
aku tidak mengenal mereka, aku tidak pernah bertemu mereka, tapi aku tahu siapa mereka. mereka adalah orang2 yang membutuhkan bantuan, sekecil apa pun itu. berapa sih ongkos angkot? ongkos yang kubayarkan 14ribu untuk kami berempat, berarti satu orang hanya 3500.

Jumat, 29 Agustus 2008

ga bisa nulis

sudah lebih dari seminggu sejak aku membuat blog ini. hari pertama sampe hari ketiga edit sana edit sini, maklum masih baru buat, istilahnya masih perkenalan. masih asyik ngatur2 tampilan, biar keren bo.. masalah isi belakangan, yang penting ga ketinggalan sama yang lain.... kalo aku juga punya blog..he...he...he.

dan hasilnya sampe sekarang baru ada satu tulisan ringan yang aku buat, sekedar ngungkapin apa sih arti bersyukur bagi aku. setelah itu... inilah yang kedua. itupun setelah beberapa hari bingung mo nulis apa, cari ide, apa ya kira2? ternyata ga dapat2 juga. aku coba chatting sama blogger yang ok-ok, nulis itu tinggal ngungkapin aja katanya. uhhh... emang gampang. ada sih yang mo dikeluarkan dari otak aku, tapi untuk ngeluarkannya susah. ya harus kuakui, emang aku ga bakat nulis. eh aku malah diledek : "masak sih ga bisa nulis, aku dari kelas satu SD udah bisa nulis. a, b, c d, trus ini budi, ini ibu budi............" beuh.. kalo itu sih aku juga bisa.

yah.. sudahlah, aku harus terima donk kalo aku ga bisa, jadi kuputuskan aja kalo aku mau isi blog aku ini dengan apa yang aku jalani setiap hari, kejadian2 yang ada, perasaan2ku terhadap seseorang, apa aja dech yang penting ga kosong. hehehe...

so tinggal tunggu aja deh, bakal ada kejadian apa nanti, biar ada bahan untuk diceritain.

Kamis, 21 Agustus 2008

bersyukur

Ketika keinginanku tercapai seringkali aku lupa berterima kasih, lupa pada Tuhan yang sudah memberikan. Ketika keinginanku tidak tercapai, aku seringkali menggerutu, kesal dan marah. Aduh ... koq gini sih Tuhan? Wah baru ingat Tuhan. Uhh... sungguh keterlaluan. ketika senang lupa berterima kasih, ketika susah malah menggerutu pake marah lagi. Bah kejamnya. Ah, betapa tidak bersyukurnya aku, seharusnya susah atau senang aku harus tetap mengingat Tuhan. Susah atau senang, Dia tetap bersamaku. Susah atau senang semuanya tak luput dari pantauanNya. Semua yang terjadi adalah rencanaNya. Dan semuaya itu "Indah Pada Waktunya". Dan ketika keinginan kita tak diberikanNya, kita juga harus bersyukur.

Waktu aku masih sekolah, aku pingin punya motor. Coba seandainya Tuhan kasih, wah... aku pasti masuk rumah sakit. Namanya anak sekolah, pasti balap2an, keluyuran...ihhhh... dulu sih ga kepikiran ngeri, setelah sekarang aku liat anak2 yang masih pake seragam balap2an di jalan, aduh kesalnya... bukan hanya membahayakan nyawa dia aja, tapi sekitarnya juga.

Nah, setelah sekarang baru aku merasa bersyukur, kenapa keinginan2ku tidak dipenuhi Tuhan. Aku bersyukur atas susah dan senang yang Tuhan berikan, karena aku tahu, baik di waktu susah atau di waktu senang Tuhan tetap bersamaku.